Rabu, Juni 10, 2009

Kelinci Putih

Silvia adalah seorang putri ningrat. Dia tinggal dalam rumah megah berkebun luas. Dia kaya sekali. Pelayannya banyak dan dia tak perlu bekerja apa- apa, kecuali bersenang- senang. Ia suka mengundang tamu- tamu. Tamu- tamunya juga kaum bangsawan. 

Silvia tak pernah pergi ke luar batas kebunnya. Semua kebutuhannya sudah tercukupi. Lagi pula... di luar batas dinding kebun belakang, terhampar hutan lebat yang seram. Tak ada penduduk desa yang berani melintasi hutan itu sendirian. Mereka selalu berbondong- bondong atau minta bantuan pengawal. 

Namun, pada suatu hari yang cerah, hutan itu kelihatannya tak begitu menyeramkan. Silvia berjalan- jalan di kebun belakang. 

Lalu menerobos pintu yang ada di sana, selangkah lagi... sampailah ia ke tepi hutan. Belum jauh dia berjalan, tiba- tiba ada seekor kelinci putih melompat ke dalam pelukannya. Bulunya halus dan matanya berkedip jenaka. Silvia langsung suka padanya. Digendongnya kelinci itu pulang ke rumah. 

Gegabah benar dia. Kelinci itu sesungguhnya adalah piaraan peri hutan. Peri hutan biasanya berwatak jahat. Dan ketika dia melihat silvia menggendong kelinci itu, dia marah sekali. 

Melesat cepat bagai kilat, peri hutan segera menghadang silvia. 

“kamu gadis busuk! Kamu mencuri kelinciku!” jerit parau si peri hutan. 

Silvia langsung mengulurkan kelinci putih itu. 

“maaf,” kata silvia, “aku tak tahu kelinci ini ada yang punya.” 

“tidak! Kau telah memegang kelinciku,” pekik peri hutan.dia memang suka marah- marah.

" sekarang kau harus memeliharanya. Baik- baik! Ingat, dia hanya mau makan daun semanggi. Lain tidak! Kalau sampai kelinci itu mati- aku akan merampas seluruh harta kekayaanmu.” 

Peri itupun menghilang. Silvia bergegas pulang ke rumah sambil menggendong kelinci putih. Andai saja tadi dia tidak melihatnya... Sulit juga mencari daun semanggi. Silvia terpaksa mengerahkan semua pelayannya untuk mencari daun semanggi. Sepanjang hari, selama beberapa minggu mereka berhasil memberi makan kelinci itu. Makan yang cukup. Tapi akhirnya habislah daun semanggi yang bisa di petik. 

Kelinci putih itu jadi kurus dan sakit- sakitan. Terpaksa silvia membuat sayembara. Jika ada anak muda yang bisa menemukan atau mengumpulkan daun semanggi segar untuk kelinci itu, silvia bersedia menjadi istrinya. 

Tentu saja anak- anak muda di seluruh dusun kasak- kusuk mencari –cari daun semanggi. Tak ada yang berhasil. Hanya satu yang beruntung, martin namanya. 

Martin menemukan seekor rusa yang pincang- luka kakinya. Martin yang baik itu menolongnya. Pada saat itu kebetulan peri hutan lewat. Dan dia sedang enak hati. 

“kamu anak muda yang baik hati,” katanya pada martin. 

“mari kutunjukkan di mana ada semak daun semanggi yang lebat,” lanjutnya. 

Lalu, setiap hari martin membawakan kelinci putih itu daun- daun semanggi yang segar. Silvia kemudian menikah dengan martin dan mereka hidup bahagia. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar